Pelengkap catatan:
GODAAN MENGINCAR,
TUHAN MENOLONG
Dasar Pemikiran
Sangatlah menggembirakan bahwa kemajuan
dunia, dalam banyak hal, berlangsung cepat dan mengagumkan, tetapi Anda
semakin mudah tergoda dengan janji-janji dan harapan-harapan yang serba mudah untuk
mencari kenikmatan hidup. Untuk mencapai semuanya itu, orang sering melakukan
jalan pintas, misalnya korupsi, penipuan, keserakahan, pelacuran. Bahkan, orang
mengejar kehormatan, kemuliaan, kemewahan, kemegahan atau kemasyhuran, baik
bagi dirinya sendiri maupun kelompoknya, dengan jalan menjual kehormatan
pribadi.
Setiap orang pernah
mengalami godaan. Orang yang jatuh
dalam godaan biasanya merasa khawatir, bimbang, ragu-ragu, cemas, bersalah,
berdosa, jauh dari Tuhan, tak berani berdoa, tersiksa, stres, dan sebagainya.
Orang yang jatuh dalam godaan biasanya
memikirkan dosa, penderitaan abadi atau neraka, Tuhan yang menghukum, hukum karma, dan sebagainya. Godaan selalu
menyerang melalui sisi-sisi lemah orang, sehingga menghambat kemajuan orang
dalam segala hal. Orang menjadi tidak berani mengambil keputusan dan bertindak
berdasarkan keputusan itu. Orang takut gagal dan dibingungkan oleh kekuatan
jahat yang menggodanya. Dalam situasi
seperti ini, orang mengalami kesulitan untuk memelihara kedekatannya dengan
Tuhan, apalagi mengalami bahwa Tuhan tetap hadir dalam hidupnya sehari-hari.
Sikap semacam ini
dapat dilihat pula dalam diri kaum muda. Dalam masa
muda ini, mereka tidak saja mengalami
perubahan fisik, tetapi juga perubahan psikis, yakni emosi, keinginan dan
kemampuan untuk berdikari, mulai merencanakan tujuan hidup yang ideal bagi diri mereka sendiri. Perubahan-perubahan
tersebut sangat mempengaruhi perilaku hidup mereka dalam menghadapi godaan yang
menimpa dirinya. Ada sementara anak muda yang
cenderung lari dari perjuangan dan
kesulitan hidup, tetapi ada yang berani menghadapinya.
Macam-Macam Godaan
Dalam hidup Orang sering
mendapat berbagai tawaran, kemudahan, fasilitas menarik yang menyebabkan orang jatuh
ke dalam godaan yang menyesatkan,
kejahatan, bahkan dosa. Aneka macam godaan dalam hidup ini dapat dikelompokkan
menjadi:
1. Godaan yang bersifat
kenikmatan atau kemewahan: mencuri, berbohong, berjudi, melihat gambar atau film
porno, mencari kepuasan badani atau seksual, menggunakan
narkoba, minum minuman beralkohol, dan sebagainya.
2. Godaan yang bersifat
kekuasaan: gila kekuasaan, berlaku sebagai diktator atau otoriter, melupakan
kepentingan umum atau rakyat, menindas, mengintimidasi, menakut-nakuti,
memperkaya diri, dan sebagainya.
3. Godaan atas kehormatan, kemuliaan, kemegahan atau
kemasyhuran: sombong, angkuh, merasa yang terhormat, melihat orang lain tidak
berarti atau meremehkan orang lain, tidak
memerlukan bantuan Tuhan, dan sebagainya.
Sifat-Sifat
Godaan
1.
Lemah bila dilawan, garang bila
didiamkan
2.
Seperti hidung belang, godaan ingin
agar perbuatan dan bujuk rayunya disembunyikan, tidak dibukakan kepada orang
yang dapat membantu.
3.
Seperti komandan, godaan selalu
menyerang kelemahan manusia. Oleh karena itu dalam hal orang perlu
berhati-hati.
4.
Godaan kadang menyerang dengan menyangatkan
sikap seseorang. Yang ceroboh dibuatnya semakin ceroboh, yang peka dibuat
kelewat peka sehingga mereka menjadi bingung.
Dua
keadaan Dasar
1.
Maju Dalam Tuhan
Orang
yang maju dalam Tuhan yaitu orang yang hubungannya dengan Tuhan semakin akrab,
orang terus memperbaiki dirinya. Pada situasi ini Roh Baik akan memberikan
semangat, kekuatan, hiburan, inspirasi, dan ketenangan untuk semakin maju lagi.
Sedangkan Roh Jahat menyesakkan orang itu dan menghalangi kemajuan orang itu
dengan tipuan dan alasan-alasan palsu.
2.
Menjauh Dari Tuhan
Orang
yang menjauh dari Tuhan adalah orang yang secara pelan-pelan meninggalkan Tuhan
atau dapat juga orang yang jatuh dari dosa ke dosa yang lebih besar. Pada situasi
ini Roh Baik akan menyesakkan hati nurani orang itu dengan teguran-teguran pada
budi orang tersebut. Sedangkan Roh Jahat memberikan kesenangan palsu dan
menyodorkan bayangan-bayangan kenikmatan duniawi agar orang itu tetap jahat.
Cara-Cara
Menghadapi Godaan
1. Bersikap tegas: sikap menolak tanpa kompromi terhadap
godaan, berani dan tanpa ragu-ragu untuk melangkah. Orang tidak boleh ragu-ragu
lagi dalam mengambil keputusan, namun ada orang yang masih ragu-ragu. Orang bersikap ragu-ragu karena disebabkan
oleh:
a. kesulitan mengambil tindakan berdasarkan keputusan itu
sendiri
b. pemikiran akan masalah yang dianggap belum lengkap
dan menyeluruh
c. perasaan takut gagal
d. keraguan dalam mengambil keputusan, antara fakta dan
kata hati, sehingga takut bertindak.
Untuk melatih agar orang dapat bersikap
tegas, Orang perlu melakukan “Agere Contra” yaitu sikap untuk mengerasi diri.
2. Berprinsip:
orang harus mempunyai prinsip untuk mengatasi godaan, yaitu mendahulukan
prioritas utama yang hendak diambil berdasarkan
fakta yang sudah dipertimbangkan.
3. Bersikap kritis: sikap peka dan hati-hati menghadapi
godaan yang ada dalam dirinya, agar
keputusan yang diambil tidak keliru.
4. Bersikap rendah hati, sebagai ciptaan Tuhan yang
terbatas, yang tidak sempurna. Dengan kesadaran ini, orang diharapkan selalu rendah hati
di hadapan Tuhan dan sesamanya, sehingga rela hidup bergandengan tangan, saling
mencintai, dan mau mendengarkan orang lain meski menyakitkan.
5. Mengikuti kegiatan-kegiatan rohani, misalnya berdoa,
berpuasa, ziarah, membaca kitab suci, dan sebagainya, untuk menyadari
keterbatasannya dan pertolongan Tuhan dalam mengatasi godaan. Selain itu,
orang membuka hati kepada Tuhan Sang Pencipta,
mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan
dalam hati, menumpahkan segala isi hati
di hadapan Tuhan dengan segala kekhawatiran
dan harapannya.
Godaan didefinisikan
sebagai suatu rangsangan untuk melakukan tindakan yang kurang pantas atau
berbuat dosa. Godaan belum merupakan dosa, asalkan orang tidak mencarinya atau
dengan senang hati mengikutinya. Godaan selalu berkaitan dengan kepentingan
pribadi. Demi kepentingan pribadi itu, orang sampai hati mengorbankan sesamanya
secara tidak manusiawi atau melanggar ajaran agama dan kepercayaan.
Semua agama dan
kepercayaan menyatakan bahwa godaan akan menyengsarakan, membinasakan orang.
Orang yang hidup
dalam godaan akan mengalami kematian abadi (dosa). Mengingat akan kelemahannya,
maka orang perlu berpegang pada Tuhan karena Dialah segala-galanya bagi
hidupnya, Pencipta dunia dan isinya, Dia sebagai pusat dan tujuan hidupnya.
Tuhan menolong orang untuk mengatasi godaan dengan berbagai cara, dalam
peristiwa hidup sehari-hari. Di satu pihak, orang tidak dapat mengandalkan
kekuatannya sendiri yang terbatas ini.
Orang harus mempunyai kesadaran bahwa pertolongan yang sejati datangnya dari Tuhan. Di lain pihak, orang harus bersikap tegas untuk mengalahkan
godaan. Ketika orang digoda, dia menyadari bahwa godaan sedang menghampirinya
sehingga dia dapat menolak godaan itu dengan tegas. Sikap ini hanya bisa
dilakukan kalau orang dapat menjaga keseimbangan hidupnya.
Kehidupan Anda tidak
lepas dari berbagai godaan. Godaan yang
menyebabkan Anda jatuh dalam kesalahan dan
kejahatan, mulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Lama-kelamaan Anda menjadi
masa bodoh dengan hati nurani, ajaran yang baik, dan bahkan mencari jalan pintas untuk mewujudkan keinginannya, misalnya memperoleh nilai baik dengan mencontek, memiliki uang dengan
berbohong kepada orang tua atau menggunakan uang SPP, mengatasi masalah dengan
minum-minuman keras atau mengkonsumsi narkoba, dan sebagainya.
Godaan Dalam Alkitab dan Ajaran Gereja
Godaan Juga di alami oleh Tuhan Yesus.
Kisah tersebut diceritakan dalam Inil Lukas 4:1-13).
Peristiwa itu memberikan banyak hal yang dapat kita gunakan untuk mengembangkan
hidup kerohanian kita. Makna dan Point-point penting yang kita dapatkan yaitu:
a. Situasi padang gurun tempat Yesus berpuasa dan dicobai
1) Sifat pokok yang dikatakan tentang padang gurun adalah keadaan yang sunyi, gersang, dan terbengkalai.
2) Padang gurun menggambarkan keadaan yang ekstrem, tidak nyaman untuk didiami, dan bahkan
menakutkan. Padang gurun berjurang terjal, air tak mudah didapat, tanahnya berbukit kapur, dan tak ada tumbuhan yang
hidup di sana.
3) Keprihatinan manusia yang
hidup di padang gurun adalah bagaimana
mempertahankan hidup. Hidup di padang gurun berarti berada di lingkup cobaan
dan tantangan, dan sering dikatakan sebagai tempat kediaman roh-roh jahat.
4) Ada pengertian lain:
padang gurun dipilih orang jika ingin memperbarui
kedekatan dengan Tuhan, supaya memiliki hidup lebih bermutu. Contoh: bangsa Israel
yang dipimpin Musa, Yohanes Pembabtis, dan
Yesus sendiri.
b. Yesus
menyendiri di padang gurun: menyendiri berarti tidak dapat mengandalkan
pertolongan orang lain, dan harus
memutuskan sendiri.
c. Berdoa berarti:
1) membuka hati kepada Allah Sang Pencipta, mendengarkan apa yang dikatakan Allah dalam
hati;
2) mengakui betapa kecilnya kita di hadapan Allah,
mengakui dan menerima kesalahan yang dibuat, memohon ampun, mengakui keselamatan sejati yang
tidak dapat dibangun sendiri.
3) menumpahkan
segala isi hati di hadapan Allah dengan
segala kekhawatiran dan harapannya.
4) berpuasa adalah tidak makan dan tidak minum
5) Yesus mengalami percobaan.
d. Macam-macam pencobaan dan sikap Yesus dalam
menghadapi godaan
1) pencobaan pertama (batu dijadikan roti)
2) pencobaan kedua (Yesus disuruh menyembah iblis)
3) pencobaan ketiga (Yesus disuruh menjatuhkan diri dari ata
bubungan bait suci)
4) Sikap tidak kompromi dalam menghadapi-pencobaan
5) orang harus membuat keputusan memilih sesuatu yang
menjadi prioritas dalam kesejatian hidup dan
menyingkirkan hal-hal yang menghalang-halangi
perwujudan dirinya mengapa ia diciptakan.
Godaan, Dosa, dan
Pengampunan
Pada umumnya orang memahami dosa sebagai
suatu pelanggaran terhadap perintah Allah,
dan perlu bertobat agar tidak dihukum Allah serta mendapat pengampunan-Nya. Pemahaman seperti itu didasari oleh pandangan
bahwa Allah itu Hakim, yang selalu melihat dosa manusia dan sudah menyiapkan hukumannya.
a. Kitab Suci Perjanjian Lama
Pandangan Kitab Suci
Perjanjian Lama tidak
jauh berbeda dengan pandangan tersebut di atas. Dosa dipahami sebagai pelanggaran terhadap larangan Allah dan
ketidaksetiaan terhadap perintah-perintah-Nya
(bdk. Yos 7:11; 1 Sam 15:24). Adapun tobat diartikan sebagai sesal,
meninggalkan berhala dan perbuatan-perbuatan keji dan segala kedurhakaan (bdk. Yeh 14:6; 18:30), lalu kembali kepada Allah dengan mengakui kesalahan
(bdk. Yer 3:12-13). Pertobatan tersebut
diungkapkan dengan bermacam-macam cara, misalnya matiraga, puasa, menyobek baju
yang dikenakan, mempersembahkan korban
pemulihan dsb., dan disertai pengakuan balk secara pribadi (bdk. 2Sam 12:13 a), maupun
secara umum (bdk. 1 Sam 7:6), ataupun
dengan perantaraan pemimpin (bdk. Kel 32:30-3 1). Pertobatan itu juga dihubungkan dengan pengampunan pribadi (bdk. Im 19:22);
2Sam 12:13b), ataupun dengan pengampunan umum (bdk. Bil 15:25). ,
b. Kitab Suci Perjanjian Baru
Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, Yesus
memberitakan bahwa Allah itu Bapa yang
Mahabaik, yang sungguh mencintai manusia. la
menjelaskan tentang dosa, tobat, dan pengampunan
dalam perumpamaan Anak Yang Hilang (lih. Luk 15:11-32). Bapa yang baik hati itu
menggambarkan Allah sendiri, sedangkan
dua orang anaknya menggambarkan manusia yang dicintai-Nya. Adapun dosa digambarkan pada tindakan anak bungsu, "...
ia pergi ke negeri yang jauh ... "(ay. 13)
artinya la meninggalkan bapanya yang mencintainya
itu. Si bungsu memutuskan hubungan dan menolak cinta kasih bapanya. Begitupun
manusia yang berdosa, meninggalkan Allah
yang mencintainya, memutuskan hubungan dengan Allah
yang ingin membahagiakannya. "... ia hidup berfoya foya ... "(ay. 13)
artinya si bungsu meninggalkan bapanya untuk
mencari kebahagiaannya sendiri, suatu kebahagiaan semu. Manusia berdosa berarti meninggalkan Allah
untuk mencari kebahagiaannya sendiri,
kebahagiaan semu, akibatnya yang didapatkannya
adalah penderitaan.
Ajaran Gereja tentang Pertobatan
Dalam gereja Katolik
dikenal adanya Sakramen Tobat sebagai tanda seseorang sungguh bertobat atas
dosa-dosanya. Ajaran gereja tentang tobat dinyatakan sebagai berikut.
1) Konsili Vatikan II melalui dokumen LG 11 menyatakan
bahwa "mereka yang menerima sakramen
tobat memperoleh pengampunan dari Allah dan
sekaligus didamaikan dengan gereja." Sakramen tobat terarah kepada
penerimaan kembali oleh Allah di dalam
Gereja. Sakramen tobat itu "sakramen iman", karena di dalamnya terungkap
iman orang berdosa.
2) Setiap orang yang menerima sakramen tobat harus berpaling kembali kepada Allah dengan segenap hati. Pertobatan batiniah ini dinyatakan
melalui pengakuan kepada (pelayan) Gereja dan menjalankan penitensi (denda).
Gereja selalu yakin bahwa tobat sungguh merupakan anugerah Allah clan dorongan Roh Kudus. Pokok sakramen tobat ialah
pengakuan iman terhadap belas kasih Allah.
Pengembangan Religiositas (Pengembangan
Wawasan)
Berikut ini disajikan
beberapa pandangan dari berbagai agama dan kepercayaan tentang godaan dalam kehidupan manusia. Anda juga
dapat membaca sumber-sumber lain yang sesuai
dengan tema untuk memperluas wawasan dan pengetahuan
Anda.
Agama Buddha
Manusia tidak boleh
terhanyut oleh harta benda karena semua benda adalah tidak kekal (anicca), semua benda adalah
penderitaan (dukkha), dan semua benda tidak
mempunyai jati diri yang terpisah sendiri
(anatta). Semua benda tidak kekal
maksudnya ialah semua benda berubah tanpa henti, tidak ada sesuatu pun
yang bisa bertahan, tidak berubah bahkan untuk
sekejap saja. Manusia yang berpegang pada benda-benda dan lekat padanya hanya
akan menimbulkan penderitaan. Hal yang harus
dilakukan adalah menghindari perbuatan buruk, melakukan kebajikan, dan
menyucikan pikiran.
(Bhikku Buddhadasa. 1996.
Buku Petunjuk Bagi Umat Manusia. Bandung: Yayasan Penerbit Karaniya, hlm. 26)
Pengamatan pikiran yang penuh nafsu indria dapat
diperoleh dengan mengamati jenis-jenis pikiran, yang meliputi pikiran atau gagasan yang salah mengenai kesenangan indria, mengenai objek-objek
yang ingin dimiliki, yang didambakan, dan terhadapnya kita mengikatkan diri;
gagasan untuk menghancurkan orang lain, untuk
melukai atau membunuh; gagasan untuk melakukan sesuatu yang kejam. Sementara itu pikiran yang benar
meliputi gagasan yang berkenaan dengan
pelepasan, bebas dari keinginan memiliki benda-benda yang biasanya didambakan orang; gagasan untuk tidak
melakukan hal yang merugikan orang lain,
yang timbul dari latihan metta atau kasih sayang; gagasan mengenai lenyapnya perbuatan
kejam, yang timbul dari latihan karuna
atau belas kasih.
(Sayagyi V
Ba Khin. 1997. Empat Kesempurnaan.Bandung: Yayasan Penerbit Karaniya)
Agama Katolik
Kalau manusia mau menjamin kesejahteraannya
dan dasar hidupnya dengan dayanya sendiri, maka dari mana ia mengambil sumber untuk itu? la harus mengambilnya dari manusia yang lain dan dari dunia sekitarnya. Oleh karena itu, dalam diri manusia berkembang suatu kehausan yang
tak terbatas akan kuasa dan kekayaan. Karena
manusia perlu menjamin hidupnya, maka sesama yang hidup dari sumber yang sama menjadi saingan. Kemudian setiap orang berusaha menguasai orang lain
supaya ia bisa melindungi diri terhadap mereka
dan supaya ia memperoleh materiil dari mereka bagi dirinya sendiri.
Penggodaan dan dosa membawa juga perubahan
dalam gambaran manusia tentang Allah. Justru perubahan ini dalam gambaran tentang Allah
menutup jalan bagi manusia untuk mengaku salah,
untuk bertobat dan kembali percaya kepada Allah sebagai pemberi hidup. Manusia tetap terkurung dalam paksaan dan kebutuhan untuk menjamin hidupnya sendiri. Manusia
tidak bisa keluar dari lingkaran setan ini dengan dayanya sendiri. la membutuhkah
belas kasih Allah.
(Georg Kirchberger
SVD. "Salib Kristus, Derita Manusia dan
Kehendak Allah" dalam jatuh? - Bangun!
jati Diri Kristiani dalam Sorotan. Orientasi
Baru no. 7 Tahun 1993 Yogyakarta:
Kanisius, hlm. 101, 102)
Agama Islam
Setan menggoda manusia melalui beberapa
pintu masuk, berupa bisikan negatif dalam dada
manusia, antara lain:
1) ambisi yang
berlebihan dan prasangka buruk terhadap Tuhan yang
melahirkan budaya mumpung dan kekikiran. Hal
ini diatasi dengan keyakinan terhadap kemurahan hati ilahi serta rasa puas
terhadap hasil usaha maksimal yang halal.
2) gemerlap
duniawi diatasi dengan sikap zuhud dan kesadaran ketidakkonsistenan
kehidupan duniawi.
3) merasa lebih
dari orang lain bahwa yang sedang
dilakukannya adalah benar dan baik. Hal ini
ditutup dengan kesadaran bahwa penilaian Tuhan ditetapkan dengan memperhatikan keadaan seseorang hingga akhir usianya.
4) mengecilkan
dosa atau menambah kebaikan sehingga
orang melakukan dosa dengan alasan dosa kecil atau enggan berbuat baik dengan
alasan malu karena amat sederhana. Hal ini ditampik dengan menyadari bahwa dosa
dilakukan terhadap Tuhan dan bahwa Tuhan tidak menilai bentuk perbuatan semata-mata
tapi juga niat dan sikap seseorang.
5) Riya' atau
ingin dipuji baik sebelum, pada saat,
maupun sesudah melakukan satu aktivitas. Hal ini dihindari dengan menyadari
bahwa Tuhan tidak menerima amal yang berpamrih.
(M. Quraish Shihab. 1996. Wawasan
AI-Qur'an: TafsirMaudhui atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan, hlm. 512)
Agama Kristen
Kisah jatuhnya manusia ke dalam dosa yang tersurat dalam Kejadian
3:1-24, sebenarnya merupakan bahan
refleksi agar manusia senantiasa waspada agar
tidak tergoda untuk menuruti keinginan
melepaskan diri dari keterpautan dan ketaatannya kepada Allah. Beberapa cara yang dilakukan penggoda supaya manusia melanggar perintah Allah, yaitu:
1. membangkitkan keraguan (Kejadian 3:1-2);
2. memutarbalikkan firman Allah (Kejadian 3:4-5);
3. membangkitkan keinginan seakan melanggar perintah Allah
akan membuat dirinya menjadi seperti Allah.
(Kejadian 3:6).
(Dr. Harun Hadiwijono, Iman
Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta 1986, hlm. 236)
Agama Hindu
Hanya awidya (kurang bijaksana) menyebabkan
manusia terikat oleh benda-benda keduniawian. Kalau direnungkan justru manusia
sering diombang ambingkan oleh pasang surut gelombang benda duniawi yang menimbulkan
perasaan duka, iri hati, marah, gelap, dan lain-lain. Oleh karena itu, sungguh sia-sia andaikata manusia terikat oleh
benda kenikmatan duniawi yang sering
menggoncangkan hidup dan ketenteraman sukmanya.
Dengan menyerahkan diri
dan sujud terhadap Tuhan maka Tuhan akan menuntun dia ke jalan yang lurus hingga sempurna sila dan budinya. Tuhan akan membimbing dia dalam
segala gerak dan langkahnya dan memurnikan hatinya sehingga ia dapat memiliki
sifat dharma (kebajikan dan budi luhur)
yang diarahkan terhadap kesejahteraan
dan kebahagiaan sesama makhluk dan dapat mencapai kebahagiaan hidup kini,
kebahagiaan akhirat dan kebahagiaan dalam
penjelmaan yang akan datang.
(Drs. IB Oka Punyatmadja. 1976. Pancha Cradha.Denpasar: Parisada Hindu Dharma Pusat, hlm. 24, 25)
Agama Khonghucu
Di dalam Shang
Sheng Jing Lagu Puja memuliakan Kalimah Suci yang di dalamnya
merangkumkan keimanan ajaran Agama Khonghucu tersurat:
Hati manusia
senantiasa rawan, hati di dalam Dao (Jalan Suci) itu muskil rahasia. Senantiasa
peganglah Yang Saripati, Yang Satu,
tekun teguhlah memegang yang Tepat
Tengah; Tengah Sempurna.
Hormat takutlah
akan kuasa mulia TIAN Yang Maha Esa, senantiasa akan beroleh perlindungan. Hidup
lestari Manunggal Firman (Pei Ming) akan membawakan bagi diri banyak rahmat.
Dipermuliakanlah (Qin Zai).
Hormat-hormatlah
sungguh TIAN Maha Cerah, Tuhan Yang Maha Besar Maha Tinggi, senantiasa
melindungi Kebajikan. Dipermuliakanlah.
Dari Iman menjadi
cerah batin, itulah dinamai oleh Watak Sejati (Xing), dari cerah batin menjadi
beriman dinamai oleh bimbingan Agama. Yang beriman tentu
cerah batin, yang cerah batin tentu
beriman. Dipermuliakanlah.
Jangan mendua hati,
jangan bimbang, Tuhan Yang Maha Tinggi menyertaimu oleh ridho TIAN Yang Maha Esa, akan diterima rahmat bahagia tanpa batas.
Dipermuliakanlah. (Xs. Tjhie)
“Selamat Belajar,
Semoga Sukses”
